Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Infeksi menyebakan ruam yang melepuh dan menyakitkan, tetapi dalam beberapa kasus menyebabkan infeksi otak yang bisa berakibat fatal. Dalam percobaan yang melibatkan 10.000 anak, para peneliti telah menemukan bahwa vaksin ini terbuat dari Enterovirus yang dinonaktifkan secara 71 (EV71), adalah 90 persen efektif melawan virus tersebut.
Tapi, itu tidak dapat melindungi terhadap virus lain yang menyebabkan penyakit ini, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di Lancet, India.
Para peneliti di provinsi Jiangsu dan Beijing menguji vaksin pada anak-anak berusia antara enam dan 35 bulan. Dua vaksin itu diberikan kepada anak-anak.
Hasil menunjukkan bahwa menghalangi 90 persen kasus penyakit tangan, kaki, dan mulut yang disebabkan oleh EV71.
"Infeksi EV71 menjadi perhatian khusus karena dapat menyebabkan penyakit parah dan bahwa kematian pada anak-anak. Vaksin EV71 bisa membantu mencegah pihak rumah sakit dan kasus yang parah," kata para peneliti, seperti dikutip ZeeNews, Kamis (30/5/2013).
Penyakit tangan, kaki, dan mulut disebabkan oleh banyak virus lain, seperti Coxsackievirus A16 dan bahkan jenis lainnya EV71, sehingga vaksin ini tidak dapat menghapuskan penyakit tersebut.
Para peneliti sendiri memperingatkan bahwa vaksin EV71 mungkin memiliki sedikit bagian dalam mengurangi kejadian secara keseluruhan selama proses, bahkan oleh imunisasi masal anak secara universal.
Mengomentari penelitian, Dr Nigel Crawford dan Dr Stevem Graham, baik dari Universitas Melbourne, mengatakan vaksin ini disesuaikan dengan strain dominan di Cina.
Menurut para peneliti,efek utama vaksin ini akan mengurangi seorang anak masuk rumah sakit, yang merupakan hasil penting dari banyak vaksin. Peneliti menambahkan bahwa langkah berikutnya adalah untuk menilai kelayakan termasuk EV71 vaksin dalam program imunisasi nasional di China.
(Adt/Igw)
Lantas, bagaimana dengan nasib di Indonesia? Apakah virus itu akan berkembang juga di Indonesia, mengingat banyaknya warga Indonesia yang berkunjung ke kawasan Timur Tengah.
Mengenai virus Korona ini, menurut Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, MSc, Ph.D, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menyampaikan ke Dinas Kesehatan untuk bisa lebih hati-hati dalam persiapan warga Indonesia untuk menunaikan ibadah haji beberapa bulan ke depan.
"Yang pasti perhatian lebih tinggi bagi para jamaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci," kata Ali Ghufron, di Energy Building SCBD, Jakarta, Kamis (30/5/2013)
Seluruh masyarakat Indonesia agar lebih berhati-hati karena virus ini memang banyak di daerah Timur Tengah. Karena vaksin untuk virus Korona belum ada di Indonesia, Kemenkes akan memberikan vaksin meningitis dan vaksin influensa yang akan ditingkatkan.
"Karena virus Korona menyerang pernapasan juga, dari dua vaksin itu diharapkan dapat membantu mencegahnya," terang Ali Ghufron.
Mobilitas di masyarakat Indonesia ke Timur Tengah sangat banyak. Alhasil, dua vaksin ini harus diperhatikan benar-benar. Tidak hanya itu, Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan akan melakukan suatu penyadaran dan pemeriksaan kesehatan untuk yang berangkat haji. Setelah itu dilakukan monitoring.
"Tidak ketinggalan, masyarakat pun akan diberikan pembekalan untuk hidup sehat, agar perjalanannya ke Timur Tengah baik-baik saja," pungkasnya.
(Adt/Mel)
Menurut laporan terbaru Pusat Pengendalian dan pencegahan Penyakit AS (CDC), cara ini dilakukan karena cuci tangan sebelum melakukan sesuatu adalah proses pencegahan penyakit paling dasar.
Ketika alat ini baru dipasang, karyawan rumah sakit tidak diberitahu kalau kebiasaan cuci tangannya sedang dipantau. Selama pertama masa percobaan 16 minggu, hanya sekitar 10 persen dokter dan perawat yang cuci tangan. Namun, setelah karyawan tahu, kebiasaan mencuci tangan naik menjadi 88 persen.
Ternyata kebiasaan ini juga sudah diterapkan di berbagai negara bagian AS. Ada RS yang memberikan hadiah pizza gratis dan kupon kesehatan bagi karyawan yang rajin mencuci tangan, Ada juga RS yang memberikan hukuman ketika banyak karyawannya tidak mencuci tangan. Lainnya, menggunakan frekuensi chip radio seperti yang dimiliki polisi dan akan berbunyi jika ada dokter yang tidak mencuci tangannya.
Menurut Dr Bruce Farber, kepala bagian penyakit menular di North Shore mengatakan bahwa ini seperti perang. Karena menurutnya dokter lupa mencuci tangan itu memiliki alasan.
"Dokter atau perawat yang lupa mencuci tangan mereka mungkin stres, lupa atau tidak mau menerima teknologi baru,"ujarnya.
Seperti dikutip Foxnews, Kamis (30/5/2013), Infeksi yang didapat di rumah sakit memakan biaya hingga 30 miliar dolar per tahun dan menyebabkan sekitar 100.000 kematian pasien setiap tahunnya di AS. Akibatnya, rumah sakit akan berusaha keras untuk memastikan dokter dan perawatnya cuci tangan. (Fit/Igw)
Perokok pasif saja dampaknya sudah mengerikan, apalagi untuk perokok aktif.
Studi global pertama menunjukan perokok pasif diperkirakan menyebabkan 600.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia dilansir BBC, Jumat (31/5/2013).
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sepertiga dari perokok pasif yang tewas adalah anak-anak yang sering terpapar asap rokok di rumah.
Studi pada 2010 November di 192 negara, menyimpulkan merokok pasif sangat berbahaya bagi anak-anak, berisiko tinggi sindrom kematian bayi mendadak, pneumonia dan asma.
Perokok pasif telah dikaitkan dengan penyakit jantung, penyakit pernapasan dan kanker paru-paru. "Ini membantu kita memahami korban nyata tembakau," ujar Armando Peruga, dari WHO Tobacco-Free Initiative, yang memimpin penelitian.
Di Asia Tenggara dan Afrika diperkirakan 165.000 anak meninggal karena infeksi pernapasan yang disebabkan karena asap. "Campuran penyakit menular dan perokok pasif adalah kombinasi mematikan," kata Peruga.
Penelitian yang dilakukan pada 2004 menemukan sebanyak 40 persen anak-anak, 33 persen laki-laki, dan 35 persen perempuan masuk ke dalam golongan perokok pasif.
Hal ini menyebabkan 379.000 kematian akibat penyakit jantung, 165.000 akibat infeksi pernapasan bawah, 36.900 dari asma dan 21.400 dari kanker paru-paru.
Menurut penelitian, jumlah tertinggi perokok pasif terdapat di Eropa dan Asia dan tingkat terendah berada di Amerika, Mediterania Timur dan Afrika.
Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa merokok pasif menewaskan sekitar 281.000 wanita di seluruh dunia, disebabkan 50 persen di seluruh bagian dunia merupakan perokok pasif.
Namun, para peneliti mengatakan adalah keterbatasan studi, termasuk ketidakpastian tentang data kesehatan mendasar dan kesenjangan dalam data yang berhubungan dengan perokok pasif.
Dalam tulisan di jurnal Lancet, Dr Heather Wipfli dari University of Southern California dan rekannya, mengatakan "Ada ketidakpastian juga diakui dalam perkiraan beban penyakit. Namun, 1,2 miliar perokok di dunia mengekspos miliaran non-perokok untuk jadi perokok pasif, yang menyebabkan penyakit polutan udara dalam ruangan". (Mia/Igw)
Begitu pun bagi seorang pemain muda yang bermain untuk Persebaya Surabaya di Liga Prima Indonesia, Andik Vermansyah. Bagi Andik, dengan menjaga pola makan serta tidak merokok, adalah rahasia dari stamina prima yang ia miliki saat ini.
"Merokok? Nggak suka. Saya memang nggak suka merokok," ujar Andi saat diwawancarai Liputan6.com, di The Ritz Carlton, Jakarta, seperti ditulis Jumat (31/5/2013)
Andik melanjutkan, menjaga porsi makan dan dengan jadwal yang teratur selalu dia lakukan untuk membuat tubuh senantiasa bugar, dan kuat ketika berlatih dan turun ke lapangan untuk bertugas.
"Jaga kondisi, makan teratur, dan yang paling penting saya tidak mengonsumsi minuman bersoda," tambahnya.
Memang, untuk jenis makanan yang dia makan, Andi mengaku tidak terpaku sama jenis tertentu. Dibilang teratur, tidak juga. Yang penting baginya, beberapa jenis makanan memang harus dihindari.
"Menghindari makanan berlemak yang banyak dan gorengan sudah pasti saya hindari," terang pria kelahiran Jember, Jawa Timur, 23 November 1991.
Andik Vermansyah yang juga alumni Danone National Cup tahun 2004 ini menuturkan kalau dirinya adalah sosok yang sebisa mungkin menjauhkan rokok dari kehidupannya.
Dia pikir, buat apa dia menjaga stamina dengan menjaga pola makan dan menghindari segala jenis makanan yang dia makan, tetapi tetap merokok juga.
"Percuma, dong," pungkasnya.
(Adt/Igw)
Seperti dikatakan ahli psikotropika sekaligus psikiater dan guru besar tetap Universitas Indonesia, Prof. Dr.dr. Dadang Hawari yang mengatakan rokok maupun ganja, keduanya tidak memiliki manfaat bagi tubuh.
"Jika ada yang bilang kalau rokok lebih bahaya dari ganja, menurut saya keduanya merusak tubuh. Perlu ada upaya yang lebih tegas dalam menghadapi kasus rokok," kata Prof Dadang saat dihubungi Liputan6.com, seperti ditulis Jumat (31/5/2013).
Prof Dadang menjelaskan bahwa kedua bahan (tembakau dan daun ganja) perbedaannya hanya pada efek yang ditimbulkan setelah pemakaian.
"Kalau rokok sudah jelas bisa mengakibatkan kanker, jantung, gangguan kehamilan dan janin, paru-paru. Itu jelas sudah ada di tulisan kemasannya. Tapi mungkin karena orang Indonesia buta huruf, jadi harusnya di kemasan ada peringatan dengan gambar yang seram," jelasnya.
Sedangkan ganja menurutnya akan memengaruhi sistem saraf yang membuat seseorang malas bekerja, tidak memiliki tanggung jawab sehingga produktivitas menurun.
"Sama saja kan keduanya tidak bermanfaat. Sudah jelas, ganja dilarang tapi rokok malah diperjuangkan dengan alasan petani rokok terbengkalai dan segala macam," tegasnya.
Prof Dadang menambahkan jika ada petani rokok yang merasa rugi atau tidak memiliki penghasilan karena lebih menguntungkan menanam tembakau, maka kebiasaan ini harus diubah.
"Jangan biarkan petani yang bingung. Ajari saja petani beralih tanaman seperti biji kopi, kakao. Modalnya dari pemerintah, jangan dipakai korupsi terus," pungkasnya.
(Fit/Igw)
Selama bertahun-tahun, laporan medis telah menunjukkan kayu manis dengan jenis dan dosis tertentu bisa membantu menurunkan kadar gula darah bagi penderita diabetes. Penelitian lain telah menemukan bahwa kayu manis bisa mengurangi peradangan, memiliki efek antioksidan, dan bahkan melawan bakteri.
Selain itu, seperti dilansir Care2, Kamis, (30/5/2013) kayu manis dapat membantu mencegah penyakit Alzheimer. Peneliti dari University of California, Santa Barbara, menemukan senyawa cinnamaldehyde dan epicatechin (hal-hal yang memberikan baik bau dan rasa) yang terkandung dalam kayu manis bisa membantu menghentikan kusutnya protein yang dikenal dengan istilah neurodegeneratif memori dari pembentukan di otak. Penelitian ini diterbitkan dalam The Journal of Alzheimer’s Disease,
Menurut penelitian, protein lebih cenderung membentuk gumpalan dan kusut di usia orang-orang dengan penyakit Alzheimer. Penelitian ini masih tahap awal, dan para petugas medis ragu-ragu merekomendasikan dosis tinggi kayu manis sebagai penangkal Alzheimer, peneliti terus mengembangkan hal ini. (Mia/Mel)