Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Sebuah studi asal Perancis menemukan, orang yang menunda pensiun memiliki risiko lebih rendah mengalami penyakit alzeheimer atau demensia tipe lain. Para peneliti berpendapat, bekerja cenderung membuat orang lebih aktif secara fisik, sosial, dan mental. Ketiganya diketahui membantu mencegah penurunan kemampuan kognitif.
Peneliti dari INSERM, lembaga penelitian medis milik Pemerintah Perancis, Carole Dufouil mengatakan, untuk setiap tambahan tahun bekerja, risiko demensia menurun hingga 3,2 persen.
Faktanya, sekitar 35 juta orang di dunia mengalami demensia, dan alzheimer yang merupakan tipe yang paling umum. Penyakit penurunan kognitif ini belum diketahui obatnya, tetapi perkembangannya bisa diperlambat.
Dalam studi ini, para peneliti menganalisis data dari sekitar 429.000 pekerja. Mereka kebanyakan bekerja sebagai penjaga toko, perajin kayu, dan tukang roti. Rata-rata usia mereka 74 tahun dan telah pensiun rata-rata 12 tahun.
Hampir 3 persen dari mereka mengalami demensia, tetapi risikonya mengecil bagi mereka yang menunda pensiun. Dufouil mengatakan, orang yang pensiun pada usia 65 tahun memiliki risiko 15 persen lebih kecil mengalami demensia dibandingkan mereka yang pensiun pada usia 60 tahun. Meski demikian, ada juga faktor-faktor lain yang memengaruhi.
Studi ini mengindikasikan, orang cenderung mengalami demensia dalam waktu 5-10 tahun setelah mereka pensiun. Dufouil berpendapat, bekerja memiliki efek yang paling baik untuk menjaga kemampuan kognitif.
Heather M Snyder, Direktur Pelaksana Medis dan Keilmuan Alzheimer Association, yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan, hasil studi tersebut bukan berarti mengharuskan seseorang untuk menunda masa pensiun.
"Yang penting adalah tetap aktif secara kognitif, sosial, dan melakukan apa pun yang menyenangkan bagi Anda," ujarnya.
Hal ini terungkap dalam ujian promosi doktor berjudul Dampak Program Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat Dibandingkan Program Kesehatan Jiwa Berbasis Rumah Sakit Jiwa Terhadap Pemulihan Pasien Psikosis, di Depok pada Senin (15/7).
Hasil riset menemukan, perawatan pasien gangguan jiwa di rumah sakit maupun di lingkungan masyarakat ternyata sama baiknya. "Penelitian menegaskan, dirawat di mana saja efektivitasnya sama. Padahal perawatan di masyarakat lebih murah," kata dr. Sri Idaiani, Sp.KJ dalam disertasinya.
Riset ini menilai efektivitas Program Kesehatan Jiwa Masyarakat Puskesmas (PKJMP), di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini dilakukan pada 2011-2012 di 6 puskemas mencakup Banda Raya, Meuraxa, Kuta Malaka, Kuta Baro, Ingin Jaya, dan Darul Imarah. Riset menggunakan pasien dengan skizofrenia, berusia lebih dari 18 tahun.
Di Aceh terdapat desa berstatus Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ). DSSJ dipimpin paramedis yang mengerti kesehatan jiwa dibantu tokoh masyarakat. Melalui pendekatan lintas sektor, dibangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa. Ida tak menampik, stigma negatif harus terlebih dulu dihilangkan. Perubahan stigma akan memudahkan perawatan pasien dengan gangguan kesehatan jiwa. Namun, perubahan stigma sebetulnya bisa berjalan seiring pengobatan.
"Inti program adalah mendekatkan pasien dengan masyarakat. Dengan program ini, stigma negatif diharapkan hilang perlahan," kata Sri.
Dalam prosesnya, penyembuhan dilakukan bersama perawat yang sudah dilatih terkait gangguan kesehatan jiwa, tokoh agama, masyarakat, dan keluarga pasien. Berbagai komponen dalam masyarakat bersama membantu kesembuhan pasien.
Bila pasien harus berobat, tempat yang pertama dituju adalah puskesmas. Baru setelah itu ke RSU atau RSJ sesuai rekomendasi. Setelah sembuh, masyarakat kembali menerima pasien tersebut. Pasien bisa kembali produktif di lingkungan masyarakatnya.
"Programnya bisa disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat. Karena Aceh kental dengan budaya Islam, maka programnya menyesuaikan," kata Sri.
Melalui PKJMP, proses penyembuhan juga menjadi lebih murah. Ida menyebutkan, seorang pasien skizofrenia bisa menghabiskan Rp. 61.653.155 selama perawatan di rumah sakit. Sementara dengan PKJMP, biaya yang dihabiskan Rp. 28.701.907. Total biaya ini berlaku selama 7 tahun perawatan. Biaya yang jauh lebih murah, menyebabkan PKJMP bisa diterapkan di segala lapisan ekonomi. Hal ini yang kemudian menjadi keunggulan PKJMP.
"Kembangkan PKJMP, murah namun memiliki efektifitas sama dengan rumah sakit. Yakinlah pasien dengan gangguan kesehatan jiwa bisa hidup di tengah masyarakat," kata Sri.
PKJMP juga dapat diterapkan di Jakarta. Asal sudah punya sistem kesehatan yang baik, lanjut Sri, maka PKJMP bukan masalah. Hal yang sama berlaku juga di kota lainnya.
KOMPAS.com — "You are what you eat". Apa yang Anda makan dapat mencerminkan pribadi Anda. Apa yang Anda santap juga menentukan kualitas kesehatan.
Fakta ini berlaku sama bagi semua manusia, tak terkecuali penderita kanker. Asupan makanan yang bergizi akan membantu proses pemulihan tubuh. Sebaliknya, asupan gizi yang buruk tidak akan mengembalikan sel tubuh dalam kondisi terbaiknya.
Kondisi ini dirasakan Liong Pit Lin, survivor kanker. Wanita ini telah bertahan dari serangan kanker payudara, rahim, dan tulang belakang yang menyerangnya pada 1996. Sejak dinyatakan sembuh pada 1999, sampai saat ini kanker tak pernah lagi menyerang Liong.
"Saya lupa pemeriksaan pertama yang menyatakan saya bebas kanker. Namun pola hidup sehat sudah 13 tahun membentengi saya dari kanker," katanya.
Liong mengatakan, sampai tahun 2000 ia masih menggunakan morfin bila rasa sakit tiba-tiba menyerang. Lalu, pola hidup sehat pun mulai ia jalankan pada 1998. Liong bukannya tidak mengetahui informasi tentang pola hidup sehat. Namun, kesibukannya sebagai pebisnis menyebabkannya tidak bisa menerapkan hal tersebut.
Pola makan asal kenyang dan tidak memperhatikan nutrisi selalu dilakukannya selama berkarier. "Saat itu saya juga tidak percaya masa buah dan sayur bisa menyembuhkan, ternyata makananmu adalah obatmu," ujar Liong.
Setahun menjalani pola makan sehat. Liong merasa tubuhnya lebih enteng. Dia bahkan lebih kuat untuk bangkit dari tempat tidur dan menjalani fisioterapi. "Padahal sebelumnya saya seperti hampir mati. Sudah tergeletak saja tak bisa apa-apa," katanya.
Dia mengakui memang tak mudah mengubah kebiasaan begitu drastis. Tapi, kondisi tubuh memaksanya untuk segera berubah. Pada pagi hari, Liong selalu mengawalinya dengan 2 gelas air putih dan jus buah.
Selanjutnya Liong akan beraktivitas yang ringan dan sederhana di luar ruangan. Sinar matahari diakuinya membantu proses penyembuhan. Liong baru sarapan sekitar pukul sepuluh pagi. Selanjutnya untuk makan siang dan malam, Liong mengonsumsi beras merah dan lauk yang tidak berupa daging atau digoreng. Tentunya, sayur dan buah selalu menemani.
Pola makan Liong keseharian lengkap terisi sayur, buah, nasi, dan polong-polongan. Semua diproses seminimal mungkin. Liong mengatakan sayur dan buah yang dikonsumsi 50-80 persen dalam kondisi mentah. Ia juga menghindari daging, kecuali telur. Bila ingin makan daging, Liong menyarankan sebaiknya tidak digoreng, dibakar, atau diberi bumbu terlalu banyak.
"Tidak usah goreng. Minyak goreng sangat mudah teroksidasi menjadi menjadi lemak jenuh. Kalau tidak bisa 100 persen vegetarian, minimal 80 persen," katanya.
Dalam sehari, Liong mengatakan, menyantap buah dan sayur sekitar 7 porsi. Untuk buah kira-kira setara 1/2 kilogram dari berbagai jenis. Sedangkan sayur sebanyak 4 porsi, dengan 1 porsi setara 1 ikat kecil bayam dan kangkung.
Kebiasaan ini terus dijalaninya. Bila tidak sempat makan sayur dan buah, Liong akan membawanya dalam bentuk jus. Sekitar 3-4 jenis jus buah dan sayur menjadi bekal kesehariannya. Tentunya jus ini tanpa tambahan gula.
Makanan, menurut Liong, menjadi akar masalah kesehatan. Menurutnya 70 sampai 80 persen penyebab sakit adalah makanan yang tidak terkontrol.
"Kalau mau sehat kontrol kebiasaan makan. Yang lebih penting jalani pola makan sehat dengan positif dan tersenyum," ujarnya.
Sayur dan buah memang hidangan yang kaya vitamin dan mineral. Keduanya juga kaya antioksidan yang melindungi sel tubuh dari radikal bebas. Terapi menggunakan jus buah dan sayur bisa meningkatkan ketahanan sel tubuh.
"Sayur dan buah memang bisa menjadi pendukung proses penyembuhan kanker. Tapi tidak yang utama," kata spesialis kanker dari RS. Dharmais, dr. Edi Setiawan Tehuteru, MD, MHA.
Menurutnya penyembuhan kanker hanya terdiri atas operasi, radiasi, dan kemoterapi. Edi sendiri menyebut kemoterapi sebagai obat yang 'bodoh.' Maksudnya, obat tersebut tidak bisa membedakan sel kanker dan sehat. Akibatnya, sel sehat juga menjadi sasaran. Sehingga sel tersebut menjadi sakit.
Sayur dan buah akan melindungi sel sehat tersebut dari serangan obat kemoterapi. Edi mengatakan, di Dharmais memang tersedia herbal untuk beberapa efek pengobatan kanker, misal leukosit yang menurun atau kulit yang terbakar. "Namun tidak lantas menjadi yang utama," ujarnya.
Nah, tak ada salahnya bila Anda mulai membenahi pola makan menjadi lebih sehat. Konsumsilah makanan sehat seperti buah dan sayuran karena makanan sehat adalah obat bagi tubuh Anda..!
KOMPAS.com - Mana yang lebih banyak Anda santap saat berbuka puasa, hidangan yang manis atau asin? Bila lebih banyak makanan manis yang Anda pilih, bisa jadi hal ini merupakan salah satu pertanda Anda kekurangan tidur.
Mereka yang mengalami kekurangan tidur memang akan lebih senang memilih hidangan yang manis. Hal ini dipicu oleh kebutuhan tubuh akan gula dan oksigen sebagai sumber pasokan energi.
Seperti diungkapkan spesialis gangguan tidur dr. Andreas Prasadja RPSGT, kualitas tidur seseorang dapat memengaruhi selera terhadap makanan. Saat kekurangan tidur, tubuh akan memberi tanda berupa rasa kantuk. Mengantuk merupakan pertanda tubuh membutuhkan istirahat. Rasa ngantuk juga merupakan salah satu tanda tubuh memerlukan asupan oksigen dan gula.
Gula merupakan sumber energi, sedangkan oksigen adalah asupan otak. Tubuh memerlukan keduanya supaya bisa bekerja maksimal. Kurang asupan oksigen dan gula dapat menyebabkan seseorang mengantuk.
Minimnya asupan energi ini akan berdampak pada selera makan seseorang. "Seseorang yang kurang tidur, cenderung memilih hidangan yang manis. Hal ini dikarenakan kurangnya asupan energi pada tubuh," kata
Kandungan gula pada makanan akan langsung diolah menjadi energi bagi tubuh. Sehingga tubuh kembali dalam kondisi terbaik. Sedangkan untuk mengatasi asupan oksigen, seseorang akan mengkonsumsi kopi. Kandungan kafein akan memaksimalkan kemampuan darah menangkap oksigen, yang kemudian disalurkan ke tubuh dan otak.
Ketika hari biasa, hal ini mungkin tidak terlihat. Namun saat bulan puasa, kecenderungan ini terlihat jelas. "Biasanya saat buka puasa, orang yang kurang tidur maunya yang manis. Mereka juga cenderung makan atau minum manis sangat banyak," kata Andreas. Kondisi ini dikarenakan tubuh meminta asupan energi, yang tidak dipenuhi saat tidur.
Selain selera makan, kurang tidur juga menyebabkan orang cepat lemas. Sayangnya, kebanyakan orang menganggap kondisi ini karena kekurangan asupan vitamin dan mineral. Sehingga mereka mengkonsumsi suplemen untuk mengatasi rasa lemasnya.
"Padahal yang dibutuhkan hanya tidur. Kalau cukup tidur seseorang menjadi lebih segar dan bertenaga," kata Andreas. Orang yang cukup tidur tidak perlu lagi mengkonsumsi banyak hidangan manis atau suplemen, untuk memastikan asupan energinya.
Posisi tidur yang kurang tepat antara lain berdampak pada sulit tidur, tidur tidak nyenyak, atau bangun tidur dengan kondisi tubuh pegal.
Memang, tidak mudah mengubah posisi tidur favorit Anda, tetapi tak ada salahnya mengetahui mana posisi tidur yang paling tepat sehingga Anda dapat bangun dengan segar.
Tidur telentang
Posisi tidur ini yang paling baik untuk menyeimbangkan berat tubuh, menjaga agar organ dalam dalam posisi selaras, dan mencegah nyeri punggung dan leher. Biasakan untuk meletakkan bantal di bawah lutut sehingga posisi punggung tetap lurus.
Namun, orang yang terbiasa mendengkur tidak disarankan untuk tidur dalam posisi ini, tetapi sebaiknya tidur dalam posisi miring di satu sisi untuk mengurangi dengkur.
Tidur menyamping
Berbaring menyamping dalam posisi seperti janin dengan kaki tertekuk dan bantal di antara kaki bisa mengurangi tekanan pada punggung. Sebaiknya gunakan bantal di kepala dalam posisi netral sehingga kepala tidak tertekuk. Kelebihan lain dari posisi tidur ini adalah mengurangi nyeri panas di bagian dada (heartburn).
Tidur tengkurap
Jika Anda mengalami nyeri punggung bawah, tidur tengkurap bisa mengurangi tekanan di antara diskus tulang belakang. Tidur tengkurap juga cocok jika Anda seharian harus berdiri atau duduk diam di belakang meja.
Namun, sebaiknya tidur tengkurap tidak dilakukan terlalu sering. Menurut Johanthan FitzGordon, pakar postur tubuh, tidur dalam posisi ini akan merusak lengkung alami punggung belakang.
Posisi ini juga menyebabkan kepala hanya mengarah pada satu sisi sepanjang malam sehingga bisa mengganggu garis lurus tulang leher. "Posisi ini juga menyebabkan tekanan pada saraf sehingga dapat memicu rasa kesemutan dan kebas saat bangun," katanya.
Kerusakan saraf atau neuropati dialami oleh 1 dari 4 orang berusia 40 tahun ke atas, terutama pada mereka yang menderita penyakit diabetes.
"Neuropati ditandai dengan gejala seperti kram dan kesemutan," kata Dr.Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, dalam acara yang diadakan oleh Merck Indonesia di Jakarta (16/7/13).
Gejala neuropati lainnya seperti rasa baal, nyeri, pegal-pegal, terutama di bagian kaki, rasa terbakar, rambut rontok, serta kelemahan tubuh dan anggota gerak.
Manfaluthy menjelaskan, saat berpuasa tubuh mendapat kesempatan detoksifikasi. Selain itu, pengalihan sumber energi dari glukosa menjadi penggunaan lemak sangat membantu pencegahan kerusakan saraf.
"Hasil metabolisme glukosa punya efek buruk pada saraf dan otot. Saat berpuasa, asupan makanan kita berkurang sehingga sumber energi banyak diambil dari cadangan lemak. Sisa metabolisme lemak tidak seburuk glukosa," paparnya.
Kerusakan saraf membutuhkan proses perbaikan bertahun-tahun karena sel saraf tidak mudah beregenerasi. "Jadi manfaatkan momen puasa ini sebaik-baiknya," kata dokter yang menjadi konsultan neurologi dari Departemen Neurologi RSCM Jakarta ini.
Neuropati juga bisa dicegah melalui pola makan yang baik. Asupan makanan yang mengandung vitamin B sangat baik untuk kesehatan saraf.
Vitamin B bisa didapatkan dari berbagai sumber makanan seperti beras yang masih mengandung kulit ari, daging, buah-buahan, serta sayuran. Jika pola makan buruk, disarankan mengonsumsi suplemen vitamin neurotropik.
Hal tersebut dialami Tina Williams (62), seorang pensiunan di Inggris. Wanita dengan ukuran payudara besar ini mengalami ruam merah di bagian dadanya.
"Rasanya sangat gatal dan nyeri, terkadang sampai berdarah," katanya.
Oleh dokter yang memeriksa diketahui ia mengalami intertrigo, kondisi yang kerap dialami wanita berpayudara besar atau payudara yang mulai kendur.
Infeksi kulit tersebut diawali oleh gesekan antara kulit di bawah payudara dan payudara sehingga terjadi iritasi. Karena area tersebut hangat dan lembab, bakteri atau jamur mudah berkembang biak. Lama kelamaan kondisi ini memicu ruam yang menjadi infeksi.
Intertrigo bukan hanya menyebabkan rasa sakit, melainkan juga bisa membuat malu karena infeksinya menimbulkan bau yang kurang sedap.
"Baunya sangat tidak enak meski sudah mandi berkali-kali dan juga dioleskan krim, tetap saja bau. Biasanya saya memakai parfum banyak-banyak," katanya.
Intertrigo merupakan infeksi jamur, bakteri, atau virus di kulit yang terbuka. Selain pada wanita berpayudara besar, infeksi itu juga bisa dialami orang yang kegemukan.
Ruam juga bisa muncul di bagian kulit lain, seperti di bawah ketiak, selangkangan, atau di belakang telinga.
Intertrigo banyak dialami wanita berpayudara besar, tetapi sebenarnya ini lebih berkaitan dengan bentuk payudara ketimbang ukurannya.
"Bahkan orang dengan payudara kecil juga bisa mengalaminya, terutama jika payudara kendur dan bergesekan dengan kulit," kata Dr Graham Johnston, dokter kulit dari Leicester Royal Infirmary.
Payudara yang kendur pada umumnya dialami wanita yang sudah lanjut usia atau setelah memiliki anak. "Payudara kendur dan seiring dengan usia kulit menjadi lebih sensitif. Ukuran bra yang tidak tepat bisa menyebabkan kulit lecet dan bertambah parah saat berkeringat," paparnya.
Pada penderita diabetes melitus yang kegemukan, infeksi intertrigo bisa menjadi lebih parah. "Diabetes membuat kulit rentan infeksi karena kadar gula darah yang tinggi melemahkan sistem kekebalan tubuh," katanya.
Tekanan psikologis juga bisa memperburuk kondisi infeksi. Sayangnya, menurut Johnston, kebanyakan orang yang mengalami intertrigo enggan berobat ke dokter karena malu.
Selain menurunkan berat badan, intertrigo sebenarnya bisa dicegah dengan memakai bra dengan ukuran yang tepat sehingga payudara lebih terangkat. Dengan demikian kulit tidak akan menjadi lecet akibat gesekan.